Indonesian language Learning Website

Vocab list Grammar Activity / explanation Reading (In Indonesian) Activity related to the Reading ( possibly a close or reading comprehension) Cultural note related to the topic of the lesson.

Monday, November 13, 2006


Lesson 8 - Entertainment - Hiburan

Vocabulary List - Kata - Kata

Bioskop - Cinema

Dansa - Dancing

Teater - Theater

Makanan Luar - Eating out

Gamelan- Traditional Indonesian Music

Ramayana - Puppet performance

GRAMMAR RULE : Dengan Lancar

As some adverbs in English are denoted by the suffix 'ly' as in quickly. This is the same case with some adverbs in Indonesian formed by the combination of dengan and an adjective

Example : Istri saya mengemudikan mobil dengan cepat ( My wife drives her car quickly )


READING

Riau

Si Lancang
Alkisah tersebutlah sebuah cerita,di daerah Kampar pada zaman dahuluhiduplah si Lancang dengan ibunya. Mereka hidup dengan sangat miskin. Mereka berdua bekerja sebagai buruh tani.
Untuk memperbaiki hidupnya, maka Si Lancang berniat merantau. Pada suatu hari ia meminta ijin pada ibu dan guru ngajinya. Ibunya pun berpesan agar di rantau orang kelak Si Lancang selalu ingat pada ibu dan kampung halamannya. Ibunya berpesan agar Si Lancang jangan menjadi anak yang durhaka.
Si Lancang pun berjanji pada ibunya tersebut. Ibunya menjadi terharu saat Si Lancang menyembah lututnya untuk minta berkah. Ibunya membekalinya sebungkus lumping dodak, kue kegemaran Si Lancang.
Setelah bertahun-tahun merantau, ternyata Si Lancang sangat beruntung. Ia menjadi saudagar yang kaya raya. Ia memiliki berpuluh-puluh buah kapal dagang. Dikhabarkan ia pun mempunyai tujuh orang istri. Mereka semua berasal dari keluarga saudagar yang kaya. Sedangkan ibunya, masih tinggal di Kampar dalam keadaan yang sangat miskin.
Pada suatu hari, Si Lancang berlayar ke Andalas. Dalam pelayaran itu ia membawa ke tujuh isterinya. Bersama mereka dibawa pula perbekalan mewah dan alat-alat hiburan berupa musik. Ketika merapat di Kampar, alat-alat musik itu dibunyikan riuh rendah. Sementara itu kain sutra dan aneka hiasan emas dan perak digelar. Semuanya itu disiapkan untuk menambah kesan kemewahan dan kekayaan Si Lancang.
Berita kedatangan Si Lancang didengar oleh ibunya. Dengan perasaan terharu, ia bergegas untuk menyambut kedatangan anak satu-satunya tersebut. Karena miskinnya, ia hanya mengenakan kain selendang tua, sarung usang dan kebaya penuh tambalan. Dengan memberanikan diri dia naik ke geladak kapal mewahnya Si Lancang.

Begitu menyatakan bahwa dirinya adalah ibunya Si Lancang, tidak ada seorang kelasi pun yang mempercayainya. Dengan kasarnya ia mengusir ibu tua tersebut. Tetapi perempuan itu tidak mau beranjak. Ia ngotot minta untuk dipertemukan dengan anaknya Si Lancang. Situasi itu menimbulkan keributan.
Mendengar kegaduhan di atas geladak, Si Lancang dengan diiringi oleh ketujuh istrinya mendatangi tempat itu. Betapa terkejutnya ia ketika menyaksikan bahwa perempuan compang camping yang diusir itu adalah ibunya. Ibu si Lancang pun berkata, "Engkau Lancang ... anakku! Oh ... betapa rindunya hati emak padamu. Mendengar sapaan itu, dengan congkaknya Lancang menepis. Anak durhaka inipun berteriak, "mana mungkin aku mempunyai ibu perempuan miskin seperti kamu. Kelasi! usir perempuan gila ini."
Ibu yang malang ini akhirnya pulang dengan perasaan hancur. Sesampainya di rumah, lalu ia mengambil pusaka miliknya. Pusaka itu berupa lesung penumbuk padi dan sebuah nyiru. Sambil berdoa, lesung itu diputar-putarnya dan dikibas-kibaskannya nyiru pusakanya. Ia pun berkata, "ya Tuhanku ... hukumlah si Anak durhaka itu."

Dalam sekejap, turunlah badai topan. Badai tersebut berhembus sangat dahsyatnya sehingga dalam sekejap menghancurkan kapal-kapal dagang milik Si Lancang. Bukan hanya kapal itu hancur berkeping-keping, harta benda miliknya juga terbang ke mana-mana. Kain sutranya melayang-layang dan jatuh menjadi negeri Lipat Kain yang terletak di Kampar Kiri. Gongnya terlempar ke Kampar Kanan dan menjadi Sungai Oguong. Tembikarnya melayang menjadi Pasubilah. Sedangkan tiang bendera kapal Si Lancang terlempar hingga sampai di sebuah danau yang diberi nama Danau Si Lancang.

(Disadur dari B. M. Syamsuddin, "Banjir Air Mata Si Lancang," Cerita Rakyat Dari Riau 2, Jakarta: PT Grasindo, hal. 44-49).


ACTIVITY FROM READING

After reading the above composition, note a few kep points about Riau that interested you.
Once you have done this do some research on those specific places and the entertainment that is offered in that area.
Then you can create a postcard with information about the city and the entertainment it has to offer !
Make it as colourful and creative as possible


CULTURAL NOTE

A populer form of entertainment in Indonesian is Gamelan :

Gamelan

A gamelan is an Indonesian musical ensemble mostly made up of metallic xylophones and gongs. Gamelan orchestras are particularly common on the islands of Java and Bali, although they exist on the other islands as well, albeit in slightly different forms.
Although gamelan ensembles sometimes include
string and, less commonly, wind instruments, they are most notable for the large number of percussion instruments, particularly metal percussion instruments. A gamelan ensemble may include sarons and genders (sets of bronze bars laid out in a single row and struck like a glockenspiel), bonangs and kenongs (sets of large, drum-shaped gongs, likewise laid out horizontally on stands), gambangs (similar to sarons or genders but with wooden bars instead of metal ones) and a variety of hanging gongs and drums.

Gamelan orchestras use two tuning systems: sléndro[?] is a system with five notes to the octave, fairly evenly spaced, while pélog[?] has seven notes to the octave, with uneven intervals. Most orchestras will include instruments in each tuning, but each individual instrument will only be able to play notes in one. The exact pitches used differs from ensemble to ensemble.
A peculiarity of gamelan instruments is that they do not usually have perfectly tuned
octaves. Almost all other instruments tune octaves in the frequency ratio 2:1 (so that an A is 440 Hz, and the A an octave above it is 880 Hz), but gamelan instruments are usually a little sharp or a little flat. It is thought that this contributes to the very "busy" sound of gamelan ensembles.
The gamelan has been an influence on several western
composers of classical music, most famously Claude Debussy who heard a Javanese ensemble play at the Paris Exposition of 1889 (World's fair). In more recent times, the American composers Lou Harrison and Evan Ziporyn[?] have written several works with parts for gamelan.

To read more go to http://www.ebroadcast.com.au/lookup/encyclopedia/ga/Gamelan.html

0 Comments:

Post a Comment

<< Home